Jumat, 18 November 2016

#Resensibuku2 : Anak Sejuta Bintang

Resensi buku novel “ Anak Sejuta Bintang


Judul buku : ‘Anak sejuta bintang’ Perjalanan panjang penuh cahaya.

Penulis : Akmal Nasery Basra

Penerbit : Expose (mizan group)

Tanggal terbit : Cetakan I, Januari 2012

Tebal buku : 405 halaman ,23 bab


Identitas Penulis

Akmal Nasery Basral , lahir di Jakarta, 28 April 1968. Dia adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Novel ‘Anak Sejuta Bintang’ adalah salah satu dari sekian hasil karya sastra-nya, yang telah Ia hasilkan, seperti : Novel Imperia (2005), Presiden Prawiranegara (2011), Sang Pencerah (2010), Batas (2010) dan lainnya.

Pendahuluan  

Buku novel ‘Anak Sejuta Bintang’ adalah buku biografis yang terinspirasi dari kehidupan masa kecil dan remaja,  Aburizal Bakrie.  Terutama sejak masuk Taman kanak-kanak (1951) dan pada saat di Sekolah Rakyat/ Dasar (1952-1958) . Namun, novel ‘Anak Sejuta Bintang’ ini tetaplah sebuah novel biografis- fiksi, karena tidak semua peristiwa ada dikehidupa Aburizal Bakrie.

Isi

Buku ‘Anak Sejuta Bintang’ mengisahkan kehidupan kecil dari Aburizal Bakrie.  Ical (sapaan Aburizal Bakrie) adalah anak pertama dari pasangan Achmad Bakrie dan Roosiah Nasution. Ical juga memiliki 3 saudara, yaitu: Odi, Iwan, dan Indra.

   Ical terlahir di keluarga yang harmonis, ramah dan juga keluarga yang berkecukupan. Achmad Bakrie adalah salah seorang pengusaha, pendiri dari Bakrie & brother. Keluarga Bakrie, juga sempat mengalami kebangkrutan, yang membuat mereka harus memulai usahanya dari awal. Namun, itu tidak membuat mereka menyerah dan patah semangat. Berkat ketekunannya mereka dapat, membangun kembali usaha mereka.

Kebahagiaan yang dialami keluarga itu tidak berlangsung dengan lama, derita yang sebelumnya tidak mereka bayangkan menghampirinya. August Alamsjah , putra ketiga mereka yang baru lahir, dengan sangat cepat telah di panggil oleh Tuhan . Wafatnya, August membuat pasangan itu sangat terpukul. Penderitaan, seolah terus menghampiri keluarga itu. Ical dan Odi di diagnosa terkena penyakit Asma ringan.

Achmad bakrie, memutuskan untuk membawa keluarganya pergi ke Cipanas,Puncak setiap minggunya agar Ical dan Odi dapat menghirup udara segar, yang dapat meringankan penyakit anaknya

Awal tahun 1951, bersamaan dengan masuknya Ical ke Taman kanak-kanak, Roosnniah melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama, Nirwan Dermawan Bakrie (Iwan). Roosniah dan Bakrie, memutuskan untuk menyekolahkan Ical di Taman kanak-kanak Perwari.

Hari pertama sekolah, Ical sangat senang karena ia memiliki beberapa teman yang sudah cukup dekat dengan dirinya, diantaranya: Ingga, Maher, Adian, dan Al. Encik yang akan mengajar Ical, selama  satu tahun mendatang bernama Cik Sul. Namun, Ical sedikit bosan karena di pertemuan pertama, mereka tidak belajar berhitung melainkan hanya bernyanyi. Ical suka berhitung.


Murid-murid Taman Kanak-kanak Perwari, umumnya berasal dari keluarga yang memiliki hubungan kuat dengan politik. Seperti, Ingga adalah( putra dari  Mr. Abdul Karim yang dikenal sebagai pengawal jalannya PDRI ) Maher,( putra dari Hamid Algadrie, tokoh PSI yang dikenal sebagai pendiri Partai Arab-Indonesia).

Namun, ada juga murid yang orangtuanya benar-benar tidak berpolitik atau tidak memiliki hubungan dengan pemerintahan, seperti seorang pengusaha dan pedagang. Salah satu contohnya adalah orangtua Ical.


      Tahun 1952, Ical melanjutkan sekolahnya di Sekolah Rakyat Perwari (SD). Hari pertama masuk sekolah Ical sangat kagum dengan gedung berlapis cat putih, dengan dua lantai yang akan menjadi tempat Ia menuntut ilmu itu.  Di SD Perwari, ternyata Ia satu kelas dengan teman lamanya ,seperti : Ingga, Wiwik ,Rizal, Adian, dan Al.  


Selama sekolah di SD Perwari, banyak peristiwa yang tidak akan pernah Ical lupakan, seperti : meninggalnya Lembu, ketabrak kereta pada saat Lembu membuat pisau dari paku , kalah saat bertanding sepak bola dengan anak Gang Ampiun dengan skor 7-1 , dan yang tidak akan pernah Ical lupakan yaitu, menjadi salah satu anggota Tim Aubade & bernyanyi dihadapan Presiden RI pertama yaitu, Ir.Soekarno pada saat hari kemerdekaan.
1957. Ical mulai digelari ‘ Anak Sejuta Bintang’ setelah 5 kali berturut-turut menjadi murid terbaik dikelas.


 Tahun 1958, adalah tahun terakhir Ical di SR Perwari. Perjuangan Ical di SR akan segera berakhir, ujian akhir sudah berlangsung. Kini saatnya pengumuman hasil Ujian, yang dihadiri oleh para orangtua murid. Ical sangat gelisah ditempat duduknya karena, Ia tidak sabar untuk mendengar namanya disebut dengan lantang, oleh kepala sekolah menjadi murid terbaik.

“Dan sekarang saya akan umumkan nama murid yang memeproleh nilai tertinggi sekaligus menempati peringkat pertama” ujar Ibu ari. “ Ananda yang berbahagia itu adalah Lingga Kusuma Karim ! “ ujar Ibu Ari. Anak-anak kelas 6 langsung bertatap tanya, seolah tak percaya dengan pendengaran mereka. Ical tidak percaya, Ia tidak menjadi peringkat pertama. Ia merasa 5 tahun kejayaannya menjadi peringkat pertama tidak berbekas apa-apa.

Setelah, kejadian itu Ical lebih memilih untuk menyendiri dan tidak banyak berbicara.  Ical tidak marah karena, Lingga menggusur posisinya tetapi Ia kecewa, karena dia tergelincir disaat-saat akhir. Bakrie mengusulkan kepada istrinya untuk mengajak Ical berlibur ke Puncak , untuk menghilangkan rasa sedih Ical.

Tiba di Puncak, Ical selalu mengurung dirinya dikamar. Melihat, sang anak yang benar-benar diam dan menjauhi adik-adiknya. Akhirnya Bakrie mengajak Ical pergi keluar villa dan memberikan nasehat kepada anak nya untuk terus bersemangat


“Ical tidak akan menghukum diri sendiri dengan tenggelam dalam kesedihan. Ical harus bangkit. Ical harus menjadi bintang waluku yang berssinar penuh makna” ujar Ical.


Kekurangan & Kelebihan

Kelebihan dari buku ‘ Anak sejuta bintang’ ini, yaitu :

*      Kekompakan dalam keluarga dan berteman, selalu menyemangati satu sama lain.
*      Selalu menghormati orangtua
*      Besarnya pengaruh orang tua, dalam perkembangan anak.
*      Pentingnya menjaga persahabatan.

Kekurangan dari buku ‘Anak Sejuta Bintang’ adalah kurangnya penjelasan dalam beberapa cerita, seperti meninggalnya, August alamsjah dan Susanto.

‘ Bintang yang paling terang di hidup Ical, adalah Mama dan Papa’



Jakarta,18 November 2016

By: Azzahra Ainul Syifa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar